Minggu, 11 Oktober 2015

Catatanku



Catatan 09 Oktober 2015
Kemana akan berlalu yang tak segera kunjung, kapan akan segera tergapainya. Rasanya semakin jauh! Apa yang terjalani sekarang dan yang akan datang tak terbukti mana yang lebih kuat aku atau bayangku yang mencoba menjadi lebih kuat. Sejenak sang aku mengungkap semua akan teratasi, namun dengan antusiasnya bayangan tak mau kalah ia juga mampu untuk itu. Tapi dimanana sang bayangan saat semua menjadi beku kemana dia kenapa tak kunjung di tunjukkannya keantusiasan.
Semua orang memerlukan waktu untuk kemudian menjadi apa yang ia mau. Proses menyamadengankan apa yang tengah dijalani hanya saja yang tengah aku dan sang bayangan rasakan tak semudah pelafalan sebuah kata proses yang hanya terdiri dari satu kata dengan dua huruf vokal itu. Bayangan tak selamanya kelam hitam, bayangan mampu mencerminkan siapa si aku dan apa saja yang dimilikinya. Dari bayangan itulah sang aku mengerti apa yang menjadi kelemahannya dan kebanggaanya.
Hari ini tepat pukul 20:30 aku masih membisu di kasur tak berbusa penompang si badan setiap harinya tanpa pengeluhan sedikitpun dengan lampu penerang yang hanya berwatkan 12. Tapi tak masalah untuk ukuran kamarku. Aku merindukannya bukan sebuah merek hanya sebuah label untuk hewan pemakan segalanya mungkin akan terlalu kasar untuk ukuran hewan akan lebih tepatnya adalah mahluk hidup pemakan segalanya dengan mempunyai ketergantungan dengan alam meski dengan segala kencanggihan yang telah ada saat ini. Bahkan untuk ukuran negara berkembang mahluk ini di nina bobokkan dengan kekayaan alam yang melimpah ruah meski dengan kehidupan politik dan perekonomian yang sedang hangat-hangatnya tapi ia masih mampu bermimpi sepuasnya dengan jas tak bertanggung jawab. Sebut saja mahluk hidup itu manusia.
Bagaimana kerinduan yang tak seharusnya ini terjadi bahkan aku tak tau kerinduan ini untuk siapa. Tak lama waktu itu berlalu hanya saja masih ada sebagian mahluk itu yang belum hilang.
Catatan 10 Oktober 2015
Masih dengan pembahasan yang sama tentang mahluk-mahluk yang membuatku merindukannya. Tapi untuk sekarang tak seindah yang telah terlewati terdahulu semua menjadi berbeda dengan aku yang seperti api dan mereka yang seperti batu. Wujud keras yang rasanya tak begitu memiliki unsur pembeda dikeduanya. Siapa yang menjadi dalang atas semua rasanya pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini. Aku masih sangat panas dengan apiku bahwa mahluk itulah yang menjadi dalang atas semuanya. Begitu juga dengan mereka, masih sangat kuat bahwa apikulah yang menjadi kekacauan atas kesemuanya.
Bagaimana aku bisa mengakui bahwa aku dalang atas kekacauan dan kebekuan yang dulunya tercipta?  Bernegosiasipun rasanya bukan menjadi titik terang untuk ini. Aku dan mahluk itu hanya sepotong kenangan yang mungkin akan segera terhapus oleh berjalannya waktu. Dan rasanya terlalu jahat untuk penyebutan akulah dalangnya! Pemberkatan bahwa adanya kantong doraemon sungguhan di era sekarang aku akan menjadikan kisah ini perbaikan yang tak akan membuat kedua pihak terluka. Namun, rasanya hanya ilusiku yang terlalu tinggi. To be Continue.....