Catatan 09 Oktober
2015
Kemana akan
berlalu yang tak segera kunjung, kapan akan segera tergapainya. Rasanya semakin
jauh! Apa yang terjalani sekarang dan yang akan datang tak terbukti mana yang
lebih kuat aku atau bayangku yang mencoba menjadi lebih kuat. Sejenak sang aku
mengungkap semua akan teratasi, namun dengan antusiasnya bayangan tak mau kalah
ia juga mampu untuk itu. Tapi dimanana sang bayangan saat semua menjadi beku
kemana dia kenapa tak kunjung di tunjukkannya keantusiasan.
Semua orang
memerlukan waktu untuk kemudian menjadi apa yang ia mau. Proses
menyamadengankan apa yang tengah dijalani hanya saja yang tengah aku dan sang
bayangan rasakan tak semudah pelafalan sebuah kata proses yang hanya terdiri
dari satu kata dengan dua huruf vokal itu. Bayangan tak selamanya kelam hitam,
bayangan mampu mencerminkan siapa si aku dan apa saja yang dimilikinya. Dari
bayangan itulah sang aku mengerti apa yang menjadi kelemahannya dan
kebanggaanya.
Hari ini tepat
pukul 20:30 aku masih membisu di kasur tak berbusa penompang si badan setiap
harinya tanpa pengeluhan sedikitpun dengan lampu penerang yang hanya berwatkan
12. Tapi tak masalah untuk ukuran kamarku. Aku merindukannya bukan sebuah merek
hanya sebuah label untuk hewan pemakan segalanya mungkin akan terlalu kasar
untuk ukuran hewan akan lebih tepatnya adalah mahluk hidup pemakan segalanya
dengan mempunyai ketergantungan dengan alam meski dengan segala kencanggihan
yang telah ada saat ini. Bahkan untuk ukuran negara berkembang mahluk ini di
nina bobokkan dengan kekayaan alam yang melimpah ruah meski dengan kehidupan
politik dan perekonomian yang sedang hangat-hangatnya tapi ia masih mampu
bermimpi sepuasnya dengan jas tak bertanggung jawab. Sebut saja mahluk hidup
itu manusia.
Bagaimana
kerinduan yang tak seharusnya ini terjadi bahkan aku tak tau kerinduan ini
untuk siapa. Tak lama waktu itu berlalu hanya saja masih ada sebagian mahluk
itu yang belum hilang.
Catatan 10 Oktober
2015
Masih dengan
pembahasan yang sama tentang mahluk-mahluk yang membuatku merindukannya. Tapi
untuk sekarang tak seindah yang telah terlewati terdahulu semua menjadi berbeda
dengan aku yang seperti api dan mereka yang seperti batu. Wujud keras yang
rasanya tak begitu memiliki unsur pembeda dikeduanya. Siapa yang menjadi dalang
atas semua rasanya pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini. Aku masih
sangat panas dengan apiku bahwa mahluk itulah yang menjadi dalang atas
semuanya. Begitu juga dengan mereka, masih sangat kuat bahwa apikulah yang
menjadi kekacauan atas kesemuanya.
Bagaimana aku
bisa mengakui bahwa aku dalang atas kekacauan dan kebekuan yang dulunya tercipta? Bernegosiasipun rasanya bukan menjadi titik
terang untuk ini. Aku dan mahluk itu hanya sepotong kenangan yang mungkin akan
segera terhapus oleh berjalannya waktu. Dan rasanya terlalu jahat untuk
penyebutan akulah dalangnya! Pemberkatan bahwa adanya kantong doraemon
sungguhan di era sekarang aku akan menjadikan kisah ini perbaikan yang tak akan
membuat kedua pihak terluka. Namun, rasanya hanya ilusiku yang terlalu tinggi. To be Continue.....